Film animasi Indonesia berjudul “Merah Putih One for All” menuai sorotan tajam dari publik setelah mendapatkan rating 1.0 di platform Internet Movie Database (IMDb). Angka ini merupakan nilai terendah dalam skala penilaian yang tersedia, mencerminkan ketidakpuasan penonton terhadap kualitas film tersebut.
Film petualangan ini dikabarkan memiliki biaya produksi sebesar Rp6,7 miliar. Disutradarai oleh Endiarto dan Bintang Takari, serta diproduksi oleh Perfiki Kreasindo, “Merah Putih One for All” telah tayang di jaringan bioskop Cinema 21 dan XXI sejak 14 Agustus 2025.
Penonton secara gamblang menyuarakan kekecewaan mereka melalui ulasan di IMDb. Banyak yang menilai film ini tidak layak tonton, bahkan ada yang menyebutnya sebagai pemborosan anggaran dan penghinaan bagi industri animasi Indonesia.
Salah satu kritikan yang paling sering muncul adalah kualitas animasi yang dinilai murahan dan berantakan. Beberapa penonton bahkan menduga adanya pencurian aset animasi dari karya lain tanpa izin.
Kekhawatiran lain yang diungkapkan adalah dugaan penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam proses produksi. Penonton mempertanyakan validitas dan orisinalitas film yang disebut mengandalkan teknologi tersebut.
Ulasan bernada negatif juga menyoroti minimnya unsur emosional dalam film. Akting suara yang datar dan alur cerita yang dianggap tidak masuk akal semakin memperkuat persepsi buruk terhadap “Merah Putih One for All”.
Tanggapan kritis dari penonton yang tertulis di IMDb mencerminkan kekecewaan mendalam. Seorang pengguna, @Aretta-4, bahkan menyatakan, “Kualitasnya buruk, saya akan memberi nilai minus kalau bisa. Sungguh pemborosan uang dan penghinaan bagi animasi Indonesia.”
Lebih lanjut, akun @Aretta-4 menambahkan, “Saya juga memperhatikan beberapa karakter dicuri dan plot yang dihasilkan AI juga terlihat jelas. Saya sarankan kalian untuk tidak menonton ini, baik untuk bersenang-senang maupun untuk konten, karena sama sekali tidak layak ditonton.”
Kritik serupa juga disampaikan oleh akun @Keano-4. Ia mengutarakan kekecewaannya dengan mengatakan, “Animasinya sangat murahan dan berantakan bahkan yang lebih buruk lagi mengambil animasi seseorang tanpa meminta izin dari pembuatnya, akting suara bahkan dari trailer seperti orang membaca teks, tidak ada emosi, alur ceritanya tidak masuk akal.”
Sementara itu, kekhawatiran tentang penggunaan AI dalam pembuatan film juga disuarakan oleh @FeliciaJ. Ia mempertanyakan proses kreatif di balik film tersebut.
“Apa-apaan ini, Bro? Serius deh. Film ini sepenuhnya mengandalkan AI? Bayangin belajar animasi, menggambar, membuatnya tampak hidup, dan menjaga imajinasi kita tetap hidup cuma untuk digantikan?” demikian kritik dari akun @FeliciaJ.
